Menjalani hidup memang tidak
mudah, tak seperti apa yang selalu kita idam-idamkan.
Kadang kita ingin selalu hidup
dengan kesempurnaan.
Tapi hidup yang sempurna hanyalah
khayalan belaka.
Dan sesungguhnya memang
kesempurnaan hanyalah Tuhan sang pencipta.
“Bu! Gorengannya lagi 3 Bu.”
teriak Wawan.
“Hutang
mu sudah banyak! Kapan kau mau membayar? Makanya cari kerja lah kau agar bisa
membayar hutang-hutang mu ini!” sahut Bu Ijah.
“Halaah
udah kasih aja dulu gorengannya, nanti kalau ada uang gua bayar!”kata Wawan
dengan nada kesal.
Ia (Abang ku) melihat perlakuan
Bapak kami dari kejauhan, air matanya mengalir setetes demi setetes berharap ia
bisa melalukan sesuatu untuk keluarga kami, tak peduli seberapa besar
kekurangan yang ia punya. Dengan tekadnya yang kuat ia berlari menuju pintu
warung belakang Bu Ijah. Ia ketuk pintu tersebut tak lama Bu Ijah membuka pintu
warungnya.
“Eh Asep, ada apa sep?”
“A
a asep, mma ma u ker ker ja di si si ni Bu!” ucap Asep, itulah kekurangan yang
dimilikinya yaitu tak bisa berbicara dengan fasih.
“Untuk apa sep? disini Ibu sudah
ada yang bantu toh?”
“a a asep ker ker ja di di sini bu bu at gan ti ti in hu hu tang
Bapak”
Ya Allah, betapa mulianya hati lelaki yang telah kau beri, walau ia
memiliki kekurangan tapi kau memberikan kelebihan yang luar biasa untuknya.
Dikesehariannya ia selalu menjadi tulang punggung keluarga kami, bahkan aku
berfikir percuma kami memiliki seorang Ayah yang kerjaannya hanya berjudi dan
mempunyai hutang dimana-mana. Sedangkan kami? Kami diterlantarkan begitu saja.
“Pak, Siti minta uang bayaran Pak.
Sudah 3 bulan ini belum bayaran” Kata ku
“Bapak ga punya duit!!” bentaknya
“Tapi Pak, kepala sekolah sudah
menagih dari seminggu lalu”
“Bapak bilang Bapak ga punya duit!
Lebih baik kau berhenti saja sekolah dan cari kerja! Kau bisa mengamen, bisa
jadi pembantu yang bisa menghasilkan uang untuk Bapak! Daripada kamu terus
memperjuangkan sekolah, dari mana duitnya?!!”
“Ma ma kanya Ba ba ba pak ker ja!”
timpah Asep
Plak! Di tamparnya Asep oleh
Bapak, aku yang terdiam melihat kejadian itu mulai menangis. Asep meringis
kesakitan, sepertinya tamparan Bapak begitu kencang mengenai pipinya. Malam
harinya aku melihat Abang sedang duduk termenung menatap langit malam, aku
mencoba menghampirinya.
“Abang belum tidur?” tanya ku
sekenanya.
“Be be lum nga nga n ttuk dek!”
“Oh begitu, bang mengapa hidup
kita seperti ini ya? Aku iri pada teman-teman ku yang mempunyai keluarga yang
utuh, Ayah yang baik serta bertanggungjawab”
“Ka ka kamu ga bo bo leh bi ca ca
ra se per per ti itu, ba ba gai ma na ppun Ba ba pak itu A a yah kita pa paling
he hebat loh!”
Tak terasa air mata ku menetes
satu per satu, di hapusnya air mata ku yang mengalir. Kini bintang enggan
menampakkan terangnya. Tapi ada satu bintang yang terang menerangi hati ku saat
ini. Yaitu seseorang yang tengah memelukku, penuh haru yang ku rasa.
“ja ja ngan se dih la lagi, a
abang ba ba kal us usaha u un tuk ba bayar spp ka ka kamu ya” hiburnya.
Asep Darmawan, itulah Abangku.
Setiap aku memperhatikannya tak ada lelah didalam jiwanya. Ia selalu banting
tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarga kami, sedangkan Bapak kami? Beliau
tidak pernah dengan kelakuannya yang suka berjudi, dan behutang kesana kemari.
Sampai akhirnya..
Braaak!! Suara dobrakan pintu dari
luar, aku yang sedang belajar dengan Abang ku tersentak kaget.
“Mana si Wawan?” bentak pria itu
dengan tato di lengannya.
“Gua mau nagih hutang sama dia!”
lanjutnya.
“Bapak ga ada bang, saya gatau dia
pergi kemana” kata ku gugup.
“I iya bang. Ba ba bapak ga a ada
di ru rumah”
“Gua ga percaya! Ngumpet dimana lu
Wan hah?!!” pria itu mengobrak abrik seisi rumah kami. Sampai- sampai ia
mengahancurkan bingkai foto hasil karya ku dan abang.
“Bang, jangan acak-acak rumah
kami! Sudah saya bilang Bapak tak ada dirumah!” kata ku sambil menangis
ketakutan.
“I iya bang. Me mang hu hu hutang
nya be ra ra rapa?”
“Tiga ratus ribu! Udah sebulan dia
ga bayar hutang sama gua! Sekarang malah kabur! Awas aja kalau ketemu gua bunuh
tuh si Wawan!!”
“I ini sa saya ada u u uang, ta
tapi ba baru se setengah. Si si lah kan a am ambil”
Diambilnya uang itu dari tangan Bang Asep dengan
kasar.
“Oke! Inget ya, kalau Bapak lu
udah pulang suruh bayar sisanya! Kalau tidak? Gua bunuh tuh Bapak lu!” pria itu
mengancam.
Aku
menghampiri bingkai foto yang telah susah kami rangkai, tapi sekarang bingkai
itu hancur berantakan. Aku menangis menatap bingkai tersebut dan Bang Ase
menghampiriku, ia memeluk ku dengan penuh kasih sayang.
“Ka
ka kamu ja jangan na nangis dek, na na nanti ca can tik nya i lang loh” hiburnya
sambil tersenyum manis.
*******To Be Continued*******
