Friday, December 28, 2012

Pria Itu Abangku


Menjalani hidup memang tidak mudah, tak seperti apa yang selalu kita idam-idamkan.
Kadang kita ingin selalu hidup dengan kesempurnaan.
Tapi hidup yang sempurna hanyalah khayalan belaka.
Dan sesungguhnya memang kesempurnaan hanyalah Tuhan sang pencipta.



“Bu! Gorengannya lagi 3 Bu.” teriak Wawan.
“Hutang mu sudah banyak! Kapan kau mau membayar? Makanya cari kerja lah kau agar bisa membayar hutang-hutang mu ini!” sahut Bu Ijah.
“Halaah udah kasih aja dulu gorengannya, nanti kalau ada uang gua bayar!”kata Wawan dengan nada kesal.

Ia (Abang ku) melihat perlakuan Bapak kami dari kejauhan, air matanya mengalir setetes demi setetes berharap ia bisa melalukan sesuatu untuk keluarga kami, tak peduli seberapa besar kekurangan yang ia punya. Dengan tekadnya yang kuat ia berlari menuju pintu warung belakang Bu Ijah. Ia ketuk pintu tersebut tak lama Bu Ijah membuka pintu warungnya.

“Eh Asep, ada apa sep?”
“A a asep, mma ma u ker ker ja di si si ni Bu!” ucap Asep, itulah kekurangan yang dimilikinya yaitu tak bisa berbicara dengan fasih.
“Untuk apa sep? disini Ibu sudah ada yang bantu toh?”
“a a asep ker ker ja di di sini bu bu at gan ti ti in hu hu tang Bapak”
Ya Allah, betapa mulianya hati lelaki yang telah kau beri, walau ia memiliki kekurangan tapi kau memberikan kelebihan yang luar biasa untuknya. Dikesehariannya ia selalu menjadi tulang punggung keluarga kami, bahkan aku berfikir percuma kami memiliki seorang Ayah yang kerjaannya hanya berjudi dan mempunyai hutang dimana-mana. Sedangkan kami? Kami diterlantarkan begitu saja.
“Pak, Siti minta uang bayaran Pak. Sudah 3 bulan ini belum bayaran” Kata ku
“Bapak ga punya duit!!” bentaknya
“Tapi Pak, kepala sekolah sudah menagih dari seminggu lalu”
“Bapak bilang Bapak ga punya duit! Lebih baik kau berhenti saja sekolah dan cari kerja! Kau bisa mengamen, bisa jadi pembantu yang bisa menghasilkan uang untuk Bapak! Daripada kamu terus memperjuangkan sekolah, dari mana duitnya?!!”
“Ma ma kanya Ba ba ba pak ker ja!” timpah Asep
Plak! Di tamparnya Asep oleh Bapak, aku yang terdiam melihat kejadian itu mulai menangis. Asep meringis kesakitan, sepertinya tamparan Bapak begitu kencang mengenai pipinya. Malam harinya aku melihat Abang sedang duduk termenung menatap langit malam, aku mencoba menghampirinya.

“Abang belum tidur?” tanya ku sekenanya.
“Be be lum nga nga n ttuk dek!”
“Oh begitu, bang mengapa hidup kita seperti ini ya? Aku iri pada teman-teman ku yang mempunyai keluarga yang utuh, Ayah yang baik serta bertanggungjawab”
“Ka ka kamu ga bo bo leh bi ca ca ra se per per ti itu, ba ba gai ma na ppun Ba ba pak itu A a yah kita pa paling he hebat loh!”
Tak terasa air mata ku menetes satu per satu, di hapusnya air mata ku yang mengalir. Kini bintang enggan menampakkan terangnya. Tapi ada satu bintang yang terang menerangi hati ku saat ini. Yaitu seseorang yang tengah memelukku, penuh haru yang ku rasa.
“ja ja ngan se dih la lagi, a abang ba ba kal us usaha u un tuk ba bayar spp ka ka kamu ya” hiburnya.

Asep Darmawan, itulah Abangku. Setiap aku memperhatikannya tak ada lelah didalam jiwanya. Ia selalu banting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarga kami, sedangkan Bapak kami? Beliau tidak pernah dengan kelakuannya yang suka berjudi, dan behutang kesana kemari. Sampai akhirnya..

Braaak!! Suara dobrakan pintu dari luar, aku yang sedang belajar dengan Abang ku tersentak kaget.
“Mana si Wawan?” bentak pria itu dengan tato di lengannya.
“Gua mau nagih hutang sama dia!” lanjutnya.
“Bapak ga ada bang, saya gatau dia pergi kemana” kata ku gugup.
“I iya bang. Ba ba bapak ga a ada di ru rumah”
“Gua ga percaya! Ngumpet dimana lu Wan hah?!!” pria itu mengobrak abrik seisi rumah kami. Sampai- sampai ia mengahancurkan bingkai foto hasil karya ku dan abang.
“Bang, jangan acak-acak rumah kami! Sudah saya bilang Bapak tak ada dirumah!” kata ku sambil menangis ketakutan.
“I iya bang. Me mang hu hu hutang nya be ra ra rapa?”
“Tiga ratus ribu! Udah sebulan dia ga bayar hutang sama gua! Sekarang malah kabur! Awas aja kalau ketemu gua bunuh tuh si Wawan!!”
“I ini sa saya ada u u uang, ta tapi ba baru se setengah. Si si lah kan a am ambil”
Diambilnya uang itu dari tangan Bang Asep dengan kasar.
“Oke! Inget ya, kalau Bapak lu udah pulang suruh bayar sisanya! Kalau tidak? Gua bunuh tuh Bapak lu!” pria itu mengancam.

                Aku menghampiri bingkai foto yang telah susah kami rangkai, tapi sekarang bingkai itu hancur berantakan. Aku menangis menatap bingkai tersebut dan Bang Ase menghampiriku, ia memeluk ku dengan penuh kasih sayang.
                “Ka ka kamu ja jangan na nangis dek, na na nanti ca can tik nya i lang loh” hiburnya sambil tersenyum manis.

                                                      

                                                          *******To Be Continued*******

No comments: